‘Rumah Belajar’ (?)
Sebuah frasa dengan dua lema yang sifatnya umum ini tentu dapat diinterpretasi dengan ragam pemahaman serta sudut pandang yang berbeda-beda.
Namun secara spesifik, seperti apa ‘Rumah Belajar’ yang sedang bertumbuh dan dihadirkan di Ummasa?
Singkat kata, Rumah Belajar Ummasa tak lain ialah sebuah wadah dari gerakan pendidikan berbasis komunitas yang berusaha meujudkan sebuah model pendidikan sejati, dalam upaya menemukan dan memberdayakan misi serta peran kita-dan-anak-anak-kita di tengah bentangan peradaban ini, sekaligusdalam lakon kehidupan kita di dunia ini secara umum.
Di masa rintisan dan tahap awal proses bertumbuhnya (bahkan hingga saat ini), ‘rumah belajar’ ini memang biasa diistilahkan sebagai ‘sekolah’.
Maka anak-anak yang tergabung dalam aktivitas di sini pun seolah sedang ikut dalam ‘kegiatan bersekolah’(baca: kegiatan seperti di sekolah pada umumnya).
Apa Sesungguhnya ‘Sekolah’?
Sepertinya memang ada yang berbeda antara Rumah Belajar Ummasa dengan sekolah pada umumnya. Namun bila memang mau balik mengacu pada asal muasal arti kosakatanya, lema ‘sekolah’ ini sebetulnya bisa menjadi hal yang bahkan amat tepat untuk digunakan di Ummasa. Nyatanya, secara etimologis, kata ‘sekolah’ ini berasal dari bahasa Latin, skhole, scola, scolae atau skhola, yang secara harfiah memiliki arti: ‘waktu luang’ atau ‘waktu senggang’— atau dalam bahasa lain lagi: leisure time(!)
Maksudnya bagaimana?
Anak-anak belum punya embanan tugas kehidupan selayaknya orang dewasa. Dalam syari’at pun, jelas belum pula terbebani dengan aturan ketat ibadah wajib beserta segala konsekuensinya. Semua ritus ibadah mereka belum terhitung secara saklek. Semuanya hanya dalam ranah pengenalan, pembiasaan, latihan.
Peruntukan waktu utama dalam paruh-paruh kehidupan mereka adalah bermain serta mengalami segala aktivitas yang cenderung bebas-merdeka, menyenangkan dan membahagiakan. Mereka semestinya tidak dibebani pekerjaan tertentu, belum boleh diembani urusan nafkah, tidak boleh pula ikut memikirkan ragam permasalahan pelik dalam kehidupan.
Dengan kata lain, kebutuhan aktivitas anak-anak memanglah bermain dan menikmati masa kanak-kanaknya. Mengisi jiwa mereka dengan pengalaman yang membahagiakan.
Namun di sela ‘kegiatan utama’ yang cenderung sangat bebas itu, di sedikit paruh waktu dalam kehidupan mereka, anak-anak kemudian diajak untuk sejenak melakukan sesuatu yang lain dalam agenda skhole, scola, scolae atau skhola, school, school,sekolah. Di paruh waktu ini, mereka belajar membaca, berhitung, serta hal-hal lainnya secara agak khusus. Di waktu luang ini mereka mulai sedikit demi sedikit mengenali ilmu pengetahuan dan ragam keterampilan untuk menjalani kehidupan. Namun yang namanya mengisi ‘waktu luang’, maka tentu bobot dan porsinya pun mesti cenderung pada keluangan dan kenyamanan sang anak.
Namun dari yang kita alami dan amati, istilah sekolah pada zaman kita ini nyatanya malah cenderung lekat dengan hal-hal yang sebaliknya—180°(!)
Bukankah pengalaman dan kesan tentang sekolah dan bersekolah yang kita alami dan kita amati jelas lebih dekat dengan hal-hal yang sifatnya kaku, formal, dengan seabreg beban akademik—maka kegiatan sekolah sama sekali tidak seibarat mengisi waktu luang. ‘Waktu luang’ bagi anak-anak sekolah zaman ini justru ketika ‘lonceng telah berbunyi’—ketika mereka terbebas dari urusan kelas dan gurunya, pulang sekolah! (nyatanya masih ada PR dan bimbel yang mesti mereka jalani).
Coba-coba kita amati!
Di zaman ini berapa banyak anak sekolah yang lebih sibuk (dalam urusan akademik di sekolahnya) dibanding seorang dewasa, baik sang dewasa itu seorang wirausahawan, pegawai negeri, atau bahkan seorang CEO sebuah bisnis besar?
Sekolah tertentu, dengan genre durasi fullday school, sudah jelas jam pulang sekolahnya hampir mirip dengan jam pulang kantor seorang dewasa—pegawai negeri, misalnya. Acap kali siswa-siswi sekolah masih punya jadwal ekstensi berupa ekskul, kursus, bimbel, les ini-itu, dkk.
Bagaimana bisa ‘waktu luang’ malah menyita hampir seluruh waktu hidup kita?
Pemahaman dan kesan kita atas kosakata ‘sekolah’ pun akhirnya sangat mengerucut pada sebuah institusi ‘pendidikan formal’ yang demikianlah adanya. Menjadi sebuah konvensi, bahwa memang seperti itulah sekolah. Di sisi lain, kegiatan yang sifatnya tidak formal, tidak berjenjang, cenderung seru dan tidak kaku, kemudian disebut sebagai ‘sekolah alternatif’.
Secara kultural, istilah ‘sekolah’ tetaplah istilah yang paling mudah diterima/dimengerti oleh khalayak umum untuk mengasosiasikan diri dengan topik dan aktivitas pendidikan. Seolah bila tidak bersekolah, maka tidak berpendidikan.
Apakah memang demikian?
Sekali-kali tidak!
Rumah Belajar atau Sekolah (ala) Ummasa?
Walau agenda kegiatannya mirip dengan rutinitas bersekolah pada umumnya, namun visi, spirit, orientasi, serta titik berat konten, hingga bentuk kegiatan yang dijalankan di Rumah Belajar ini jelas bersifat khas, cukup banyak berlainan dengan apa yang berlaku dan terjadi pada sekolah umum (baca: sekolah konvensional, sekolah formal) yang telah lazim kita kenali di zaman ini.
Dalam konteks fenomena pendidikan dan persepsi khalayak mengenai sekolah di zaman ini, maka untuk mengenali apa sebetulnya Ummasa, istilah ‘ALTERNATIF (dari) SEKOLAH’ boleh jadi lebih tepat ketimbang frasa ‘sekolah alternatif’. Dalam istilah yang lebih sederhana dan mudah diakrabi, istilah ‘SEKOLAH BERBASIS KOMUNITAS’ juga bisa cukup relevan mewakili gerakan pendidikan yang dijalankan di Ummasa.
Intinya, RUMAH BELAJAR (di sini) memanglah sebuah konsep yang berbeda dengan SEKOLAH-yang-lazim-kita-kenali di zaman ini.
‘Rumah Belajar’.
Jelas! Bahwa ini bukan sekadar diksi (pilihan kata), melainkan ada sebuah cara pandang serta serangkaian hal yang sifatnya maknawi yang hendak kita ikatkan pada istilah ini.
Di tengah kejenuhan tentang pemahaman dan anggapan sebagian dari kita atas konsep sekolah, (dengan pola umum dan segenap model yang telah lazim kita ketahui bersama dari generasi ke generasi di era modern, mencakup cara pandang atas pendidikan, orientasi/arah tuju, serta segenap praktek khasnya), Ummasa mencoba menghadirkan sebuah ‘Rumah Belajar’ sebagai sebuah wadah bagi rekan-rekan keluarga dan individu yang berkenan untuk tumbuh bersama dalam sebuah kesadaran, di mana setiap yang tergabung di sini dapat berkolaborasi, bersinegi, dan mengambil peran khas-nya masing-masing untuk menjalani sebuah gerakan pendidikan bersama, di mana cita tentang model pendidikan sejati serta cita tentang kehidupan yang sejati sedang dituju bersama
Rumah Belajar ini memang ibarat sebuah ‘rumah’
Di mana tiap-tiap individunya diupayakan agar mempunyai ruang yang ‘nyaman’ (ibarat dalam rumah sendiri).
Sebuah ‘Rumah Belajar’ ialah ruang yang terkondisikan untuk aktivitas belajar dan saling-belajar, tempat untuk saling memancarkan semangat belajar, tempat meluaskan dan memperdalam makna atas kata ‘belajar’ itu sendiri, tempat menggali hakikat dan mengais makna tentang pendidikan dan pengasuhan secara lebih khusus dan saksama, serta tentang kehidupan secara umum dengan seutuhnya (kafah, holistik).
‘Rumah’ di mana segala cita dan upaya tentang kebaikan dihidupkan dan tumbuh dari dalam keluarga-keluarga yang berkumpul dan menjalin jaring kehidupan di dalamnya. Keluarga-keluarga yang bertumbuh bersama, saling menularkan spirit kebajikan, saling-menguatkan langkah, melebur dan menggulirkan sebuah tatatan kehidupan bersama ibarat sebagai sebuah ‘keluarga besar’ yang tinggal dalam sebuah ‘rumah bersama’ (baca: komunitas, masyarakat mikro).
Seibarat bangunan fisik rumah yang berfungsi yang menaungi dan melindungi kita dari panas-terik-hujan, Rumah Belajar Ummasa juga diharapkan seibarat tempat bernaung, tempat berlindung, tempat di mana keluarga-keluarga yang tergabung di dalamnya saling menjaga, di tengah kenyataan zaman ini yang cenderung menjauhkan kehidupan manusia dari fitrahnya.
Maka aktivitas ‘yang mungkin terjadi’ dalam Rumah Belajar ini jelas bukan melulu seputar rutinitas anak yang ‘bersekolah’ dan orangtua yang ‘mengantar anak bersekolah’ (lalu menerima pembagian rapot serta segenap ritus khas sekolah lainnya, hingga kemudian berujung pada selembar ijazah).
Bobot utama dari Rumah Belajar ini sebetulnya justru ada pada aktivitas berkehidupan para edukator yang tergabung di dalamnya (guru/orangtua/keluarga/pengasuh/relawan pendidikan/juru masak/perawat kebun, karyawan lain-lain, dsb).
Aktivitas ini bisa berupa aktivitas apapun yang mengisi dan menggenapi kehidupan, dalam rangka meniti sebuah visi dan cita-cita bersama tentang ‘kehidupan sejati’ (kehidupan yang berkesadaran secara kafah [utuh/menyeluruh], kehidupan yang berusaha terus menyentuh ranah makna, kehidupan yang memiliki cara pandang dan orientasi pada kehakikian, kehidupan yang sesuai fitrah dan tujuan penciptaan yang telah digariskan oleh Sang Pencipta).
Keseluruhan itikad baik, spirit, peran, pemikiran, hasil perenungan serta pemaknaan komunal inilah yang kemudian menjadi ‘bahan baku’ (konten) sekaligus ‘energi’ untuk membawakan garapan pendidikan bagi diri-kita-sendiri-dan-anak-anak-kita-bersama.
Maka salah satu bentuk konkret dari aktivitas Rumah Belajar ini tak lain memang berupa rutinintas kegiatan belajar anak-anak yang seibarat agenda bersekolah.
Kegiatan rutin anak-anak ini juga ibarat pengikat dan penjaga kesadaran bagi kita tentang apa yang sejatinya kita jalani, apa yang sesungguhnya sedang kita songsong, dan kemudian apa yang pantas kita hadirkan dan kita kukuhkan ke tengah anak-anak kita tercinta (maka anak-anak dan segenap aktivitasnya Ibarat cermin tentang diri kita).
Segenap cahaya kebajikan yang dinyalakan bersama di Rumah Belajar ini dengan sealamiahnya akan memancar sebagai pendaran kebajikan yang mencerahkan dan memberi daya pada kehidupan anak-anak. []
Amin ya Rabb.